OLAHRAGA KICKBOXING : ANTARA PRESTASI DAN TEMPA NYALI SERTA MENTAL TANGGUH

Read Time:2 Minute, 8 Second

 

Camp Cobra  pacet saat para fighter foto bareng   Tim  pelatih setelah raih juara pada Kejurprov di Malang Raya (Putri/Pojokkampungnews.com)

Pojokkampung,Pacet, Mojokerto – Di balik dentuman musik dan sorak penonton, kickboxing bukanlah sekadar adu jotos dan tendangan. Bagi puluhan atlet muda di pelosok Mojokerto, kickboxing adalah sekolah kehidupan. Tentang bagaimana ditempa rasa takut, dibentuk menjadi nyali, dan diubah menjadi mental tangguh.

Bagi masyarakat awam, kickboxing mungkin identik dengan kekerasan. Padahal di atas ring, yang bertarung bukan hanya fisik, melainkan strategi, disiplin, dan yang paling utama adalah mental.

Dari Rasa Takut Menjadi Prestasi

“Kebanyakan anak datang pertama kali itu takut. Takut dipukul, takut sakit, takut kalah,” ujar Coach Susilo salah satu pelatih kickboxing di Mojokerto, Senin(10/8/2026).

Namun dari rasa takut itulah proses dimulai. Latihan fisik yang keras, lari pagi dan sore, skipping ribuan kali, pukulan dan tendangan ribuan kali hingga sparring yang membuat napas terengah-engah, semuanya bukan untuk menyakiti, tapi untuk menempa fisik dan disiplin.

“Kita tidak mencetak preman. Kita mencetak petarung yang berkarakter. Di luar ring dia harus sopan, di dalam ring dia harus pemberani. Itu prinsip kami,” lanjutnya.

Khabib Wahyu : Fighter Kickboxing Kab. Mojokerto Pearai medali Perak mewakili Jatim pada kejuaraan Nasional di TMII Jakarta Timur

Kickboxing kini telah menjadi olahraga prestasi resmi di bawah naungan KONI. Atlet-atlet daerah sudah mampu bersaing di tingkat provinsi hingga nasional bahkan Internasional. Medali demi medali berhasil dibawa pulang, mengharumkan nama camp,Instansi,Sekolah dan daerahnya.

Lebih dari Sekadar Juara

Prestasi memang menjadi tujuan akhir. Namun bagi seorang atlet kickboxing, kemenangan terbesar adalah saat mampu mengalahkan dirinya sendiri.

BACA JUGA :   Pengprov Kickboxing Jatim Gelar Ujian Sabuk Diikuti 260 Fighter Se-Jatim

Rasa malas untuk latihan, rasa ingin menyerah saat dipukul, dan rasa takut untuk maju. Semua itu dilawan setiap hari di dalam sasana.

“Anak yang tadinya malas, pemalu, dan suka minder, setelah 6 bulan latihan kickboxing berubah total. Jadi lebih disiplin, percaya diri, dan menghargai waktu. Itu yang tidak bisa dinilai dengan medali,” ungkap Coach Silo panggilan akrab Susilo.

Di sasana, tidak ada perbedaan latar belakang. Semua sama, memakai sarung tinju yang sama, bermandikan keringat yang sama. Solidaritas dan rasa kekeluargaan menjadi kunci agar atlet tidak mudah pindah camp atau bermalas-malasan.

Harapan untuk Masa Depan

Dengan semakin banyaknya event kejuaraan kickboxing, baik amatir maupun profesional, masa depan olahraga ini semakin cerah. Para atlet muda kini memiliki wadah yang jelas untuk menyalurkan energi dan bakatnya ke arah yang positif.

Kickboxing mengajarkan satu hal: Nyali tidak dibawa sejak lahir. Nyali itu ditempa ditempat latihan.

Dan dari tempaan itulah, lahir mental-mental tangguh yang siap tidak hanya juara di atas ring, tetapi juga juara dalam kehidupan.(*)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Spread the love

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Grand Whiz Hotel Trawas Rayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI Dengan Promo AuguStay Signature, Upacara Bendera, dan Beragam Lomba Seru